r.e.f.r.a.m.i.n.g

Siapa yang tidak kesal dengan ketidakprofesionalan?! Ya, memang, saya sempat kesal atas ketidakprofesionalan salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Bagaimana tidak?! Setelah diumumkan diterima sebagai calon dosen tetap di universitas tersebut, dengan “seenaknya” universitas tersebut  membatalkannya dengan alasan belum punya ijazah S2. Hello…tidak salah?! Diawal ‘kan sudah dikumpulkan berkas lamaran, CV, ijazah dan transkrip S1, dan transkrip S2..sudah jelas-jelas kalau di CV tertulis “sedang menyelesaikan tesis”. Kalau saya dipanggil dan lolos sampai tes terakhir (ada tiga tes: ujian tulis, wawancara, dan microteaching dengan sistem gugur), ya jangan salahkan saya..seharusnya bagian kepegawaian dan tim recruitment itu yang dievaluasi. Sebenarnya, di awal sudah sempat  curiga dengan “ketidakberesan” kampus ini..karena saat tes, selalu saja molor. Bahkan, tes yang seharusnya berlangsung satu hari jadi dua hari. Nah lho…

Sempat sedih, iya, itu manusiawi. Akan tetapi, yang lebih terasa memang kesal karena bapak ibu sudah terlanjur tahu.  Sesaat kemudian, saya teringat dengan obrolan keluarga beberapa minggu lalu, saat sepupu kalimantan galau akan kisah hidupnya dan bu dokter keluarga alias my beloved sista memberikan jawaban persoalan tersebut, yaitu “reframing”. Sepertinya, tidak ada salahnya juga apabila teknik “reframing” ini diterapkan pada kekesalan saya.

Apa sih “reframing” itu?

Kalau menurut salah satu teman saya yang mengambil jurusan psikologi, reframing itu mengganti label–menukar perspektif kita saat melihat perilaku/kejadian. Artinya, saat kita mendapati perilaku/kejadian yang membuat kita tidak berdaya, maka tugas kita adalah me-re-frame perilaku/kejadian tersebut sehingga kita menjadi berdaya. Didasarkan pada asumsi bahwa di balik setiap perilaku/kejadian terkandung maksud positif, reframing mengajak kita untuk keluar dari kerangka berpikir ‘masalah’ dan melompat ke dalam kerangka berpikir ‘solusi’ atau ‘tujuan/outcome’.

Nah, selaku orang linguistik, reframing ini tentu bukan merupakan hal yang baru lagi karena reframing merupakan salah satu teknik dalam NLP. Ada cukup banyak teknik reframing yang ditemukan oleh para pakar NLP, diantaranya adalah Sleight of Mouth Pattern atau Mind-Lines Pattern dalam Neuro-Semantic. Namun demikian, pada tulisan ini saya hanya akan membahas dua jenis reframing yang konon katanya paling dasar dan cukup ampuh untuk menjadikan kita senantiasa berada dalam kondisi positif, yakni context dan content reframing.

Context Reframing

Context reframing adalah membingkai kembali sebuah pengalaman akan perilaku/kejadian dengan mengubah konteksnya sehingga menimbulkan makna baru yang positif. Misalnya: “Ponakanku setiap hari main sepeda terus”. Context reframing-nya, “Bagus dong, berarti kalau ada lomba balap sepeda kemungkinan besar bakal menang”.

Content Reframing

Content (meaning) reframing adalah membingkai kembali isi dari sebuah pengalaman atas suatu perilaku/kejadian. Contohnya, “Saya paling tidak suka kerja kelompok dengan si A karena sulit diajak kerja cepat. Tidak sabar jadinya. Kemudian,content reframing-nya menjadi “bukankah itu artinya dia mengerjakan dengan hati-hati?!”

Oleh karena itu, saya mencoba me-re-frame pikiran saya yaitu “saya gagal” menjadi “saya tidak gagal, tetapi sedang dalam proses menuju kesuksesan”.

Seperti ngendikane Pak BJ Habibie, “pengalaman itu tidak bisa dipelajari tetapi harus dilalui”. Seperti kata my eldest sista, “tidak ada pelaut ulung yang lahir dari laut yang damai”. Seperti yang telah ditulis Kartini dalam suratnya, “Habis malam terbitlah terang, habis badai datanglah damai, habis juang sampailah menang, habis duka tibalah suka…Tiada terang yang tiada didahului oleh gelap..mengendalikan diri adalah kemenangan jiwa atas tubuh kita, kesunyian adalah jalan ke arah pemikiran.” Seperti petuah dari Bapak calon mertua, “baik nikmat maupun cobaan adalah ujianNya, tetapi sepanjang-panjangnya malam, fajar ‘kan terbit jua”.

Insya Allah, apa yang saya lalui selama ini, meskipun sempat mengorbankan penelitian, tidak ada yang sia-sia. Dan saya percaya ngendikanipun my lovely Kanjeng Mami, Allah punya skenario lain yang lebih indah. Bagaimanapun saya hanya lakon di dunia pewayanganNya,..yang terpenting adalah selalu sangu DUIT alias Do’a Usaha/Ikhtiar Tawakal. Janji Allah itu pasti, Ia tidak akan memberikan ujian pada hambanya melebihi kemampuannya🙂 Kalau boleh mengutip apa yang ditulis mas Ernest Hemingway dalam novelnya Old Man and the Sea, “the sea is life, and i am one with it“..Ya, saya memang sedang berpetualang mengarungi samudera kehidupan, berjuang melawan ombak bergelombang dan badai..maju perut pantat mundur upss maju terus pantang mundur :-p, pantang patah arang sebelum menang perang, S-E-M-A-N-G-A-T..mari menyelesaikan tesis!!!😀

2 thoughts on “r.e.f.r.a.m.i.n.g

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s