tak kenal maka TITIK

Mungkin ini yang bernama dengan si ‘galau’, saat pikiran dan rasa mengacau. Tepat hari ini dia telah kurasai, memaksaku menorehkannya dalam blog ini. Tak biasanya. Namai saja malam ini edisi curcol dan diawali dengan “Dear Diary…”.

Mood-ku hari ini sedang bagus. Sedikit stel-kendho alias sedang tak ingin “ke sana kemari membawa alamat” (baca: ngurus izin penelitian). Kebetulan juga ada gretongan modem plus isinya sekalian. Finally, I’m stuck in the moment with my lapie..goggling sana sini, termasuk comment sana sini. Anda tahu pemirsa?! Untuk kali pertamanya, seseorang me-remove my fb’s account. Bukan hal penting memang masalah pe-remove-an di dunia perfesbukan, tetapi menjadi penting bila kehilangan seorang teman. Kubacai balasan komentarnya, kurasai aku telah menyinggungnya. Padahal, demi Allah, tak ada niatanku buat mengusiknya. “wkwkwk” adalah inisial bahwa komentar tersebut berbau humor.

Bukan main bercampur aduk pikiran dan perasaan ini. Sedih, pasti. Pikiran melayang, mempertanyakan apa yang salah?! Kupastikan ku tak punya masalah dengan dia. Pun ku tak pernah berniat membuat masalah maupun dia yang membuat masalah. Kurangkai setiap kejadian dan kupahami bahwa akar masalah ini adalah “tak kenal”. Batangnya adalah “tulisan”. Daun dan bunganya adalah “interpretasi”.

Mari kita mulai dari “Tulisan”. Sebagaimana diketahui ragam bahasa dalam fb adalah ragam bahasa tulis. Secara teori, ragam bahasa tulis cenderung berstruktur S-P, lengkap dan panjang, bahkan ada yang terdiri atas beberapa klausa. Bahasa tulis sering menggunakan penanda hubung untuk menunjukkan suatu hubungan ide, seperti namun, oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan hal itu, dan sebagainya. Penggunaan bahasa tulis dapat dipantau dan direvisi oleh penulisnya. Penulis memiliki kesempatan untuk melakukan hal ini. Begitu pula di fb, setiap tulisan bisa diedit ataupun didelete. Namun demikian, ternyata tulisan di fb ibarat ucapan, kalimat yang meluncur susah ditarik kembali karena terlanjur menghujam di hati.

Kenapa hal ini bisa terjadi?! Mari kembali ke teori linguistik. Ada dua fungsi bahasa, yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Salah satu fungsi umum bahasa digambarkan sebagai sarana untuk mengungkapkan gagasan, maksud atau tujuan yang diungkapkan melalui bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan. Bahasa dikatakan berfungsi dengan baik jika pendengar atau pembaca memahami substansi dan isi apa yang dimaksud  pembicara untuk bahasa lisan–dan pembaca untuk bahasa tulisan. Dalam hal ini, perbedaan interpretasi bisa saja terjadi.

Nah, kenapa bisa terjadi perbedaan interpretasi tadi pagi?! Bisa jadi karena perbedaan latar belakang pendidikan atau pengetahuan, budaya, atau bahkan tingkat kecerdasan–yang dirangkum dengan istilah “tak kenal”. Salah interpretasi, salah pandang, salah persepsi..karena tak kenal. Begitulah. Inilah yang sering kali menjadi penyebab kesalahpahaman.

Ya sudahlah, saatnya berintrospeksi di malam menjelang pagi (buta). Ku tak akan menyalahkannya. Ku hanya berfikir, mungkin ku tak mengenalnya dengan baik. Mungkin ku harus belajar extra keras agar pandai-pandai menjaga ucapan (termasuk di tulisan, seperti fb). Maksud hati baik, tetapi penyampaian salah, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Sebagaimana yang telah terjadi, kata-kata yang dilontarkan tanpa dimaksudkan untuk melukai dan hanya sebagai bahan bercandaan dalam obrolan senda-gurau ternyata justru melukai. Bukan hanya tulisan yang mengandung kekuatan, melainkan juga kata-kata. “The power of words” dan “Mulutmu harimaumu” bukan hanya diingat, tetapi dimaknai. Pun Nabi mengatakan bahwa lidah setajam pedang. Ya, lidah bisa lebih tajam daripada pedang. Lukanya lebih perih dan sakit dibanding luka dengan pedang sungguhan. Bahkan pengobatannya pun bisa lebih lama dibandingkan mengobati luka dengan pedang sungguhan.

2 thoughts on “tak kenal maka TITIK

  1. hmmm..menurutku,,biasanya ungkapan yg sering kudengar itu “tak kenal maka tak sayang”, bukankah akan lebih indah jika kita berusaha untuk mengenal “seseorang/ sesuatu” agar kata “titik” itu berubah menjadi “sayang”? hehehe…

    tdk mudah memang dlm memahami bahasa dlm Fb yg trkadang penulis menggunakan bahasa kias/ konotasi (mungkin maksudny biar si penulis atau orang2 tertentu saja yg dpt mengetahui sandi2 itu),

    pembelajaran bahwa kita mesti berhati2 dlm berujar, entah itu mlalui bahasa lisan atau tulis..bs2 mnimbulkan salah paham.. bukan bgitu saudaraku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s