travelicious: tamansari

Ini adalah kali keduanya saya ke Tamansari. Jika yang pertama saya ke sana melalui belakang alias belakang pasar Ngasem, kali ini saya lewat pintu depan. Tujuh tahun telah berlalu, terlihat bahwa Tamansari telah direnovasi, tetapi dengan tanpa menghilangkan nilai historis dan estetikanya. Seperti yang telah diketahui bahwa pada saat terjadi gempa pada tahun 2006, Tamansari mengalami keretakan di sana-sini. Sebagai mantan calon Arsitek, keindahan arsitektur Tamansari tampak sangat khas. Ada kemiripan dengan arsitektur bangunan Eropa yang dipadu dengan dominasi nuansa simbolik Jawa yang tampak pada relief-reliefnya.

Secara historis, Tamansari ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya pada tahun 1758. Letaknya tidak begitu jauh dari Kraton, kira-kira 300 meter di sebelah barat Kraton. Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, tetapi juga merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam permandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus, dan sebuah kolam yang besar (apabila kanal air terbuka).

Secara singkat, bagian-bagian Tamansari terdiri dari:

  • Bagian Sakral. Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri. Ruangan ini terdiri dari sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertapaan Sultan dan keluarganya.
  • Kolam Permandian. Bagian ini merupakan bagian yang digunakan untuk bersenang-senang oleh Sultan dan keluarganya. Bagian ini terdiri dari dua buah kolam yang dipisahkan oleh bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang yang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar di dalamnya.
  • Bagian Pulau Kenanga. Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gumuling, dan lorong-lorong bawah tanah.

Tamansari atau Castle of Water menyajikan kolam air yang dikelilingi benteng 6 meter. Ada semacam ‘menara’ yang berfungsi bagi raja agar dapat memandang para selir yang sedang mandi di kolam air di bawahnya. Biasanya, jika raja berkenan pada seorang selir, beliau akan melemparkan bunga dari menara itu kepada selir yang dikehendakinya untuk menemani raja untuk mandi di kolam pemandian raja dan selanjutnya akan menemani raja di kamarnya. (Bagian ini tidak perlu dijelaskan ya raja-nya ngapain, hehehe)

Di sisi selatan, ada juga tempat pemandian yang khusus digunakan oleh raja dengan selir yang dipilihnya. Pada bangunan yang semacam menara itu juga ada tempat peraduan bagi raja juga tempat berganti busana. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa di Tamansari itulah raja biasanya beristirahat bersama-sama dengan selir/ permaisurinya.

Setelah itu di sebelah barat terdapat pintu gerbang yang dari tangga kanan dan kirinya dapat menuju ke atas. Dibagian atas bangunan akan ditemui sebuah teras yang berukuran tidak terlalu besar untuk para raja bertemu dengan rakyatnya.

Perjalanan menyusuri sejarah melalui Tamansari kemudian diteruskan melewati rumah-rumah penduduk menuju ruangan yang lain berupa masjid bawah tanah yang terdapat sumur gemuling-nya. Pihak kraton memang merelakan masyarakat membangun rumah di dalam komplek Tamansari itu. Hal yang menarik adalah dinding-dinding rumah penduduk yang penuh dengan grafiti batik, seolah berada di kampung seni.🙂

Untuk menuju masjid bawah tanah harus melewati terowongan. Terowongan  masjid bawah tanah ini konon dikelilingi oleh air yang bisa dilihat melalui jendela-jendela yang terlihat disisi terowongan menuju masjid bawah tanah ini. Bangunan yang sangat kontras terlihat sekali, membuat saya terkagum-kagum dengan sistem sirkulasi yang sangat bagus di setiap bangunan Tamansari.

Setelah itu akan ditemui masjid yang berbentuk ring atau seperti donat dan memiliki 2 lantai. Jama’ah perempuan berada di bawah dan yang berada di lantai atas adalah jama’ah laki-laki. Masing-masing lantai memiliki imam sendiri. Untuk menuju lantai atas, terdapat anak tangga.

Untuk menuju pintu keluar pun melewati terowongan lagi.

Menarik bukan?! Benar-benar Never Ending Jogja, cinta tanpa akhir untuk Jogja.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s