Review: To Kill a Mockingbird (1960)

Novel “To Kill a Mockingbird” ini merupakan pemberian mas bro Hajam Maskur. Sekilas saja mengamati sampulnya, terbersit bahwa novel ini pasti berbau rasis. Saat membuka halaman pertama, langsung disambut dengan kalimat:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau meyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”

..udara pun seketika penuh rasa curiga..seolah kembali ke dunia..never ending sastro🙂

Ada 1 PR dari mas bro, “Apa yang menyebabkan novel ini bisa mendapatkan penghargaan Pulitzer?”. Melalui note ini, semoga pertanyaan tersebut terjawab.

Tokoh-tokoh

Atticus, yang sangat menyayangi kedua anaknya, adalah seorang egaliter sejati. Atticus digambarkan sebagai orang yang bijak. Sebagai pengacara misalnya, dia tidak pernah membeda-bedakan kasus yang akan dibelanya. Begitu pula saat menjadi ayah, dia tidak pernah memihak saat mendidik anak-anaknya.
Jem adalah anak laki Atticus yang beranjak remaja. Meskipun sering usil Jem selalu berusaha melindungi adiknya. Jem berusaha menjadi pria sesungguhnya dengan mencoba bersikap dewasa.
Scout Finch adalah anak perempuan Atticus. Gadis cilik ini selalu ingin tahu, cerdas, dan kritis yang selalu bermaja-manja di hadapan ayahnya. Scout selalu terlihat tomboy di lingkungan bermainnya, tidak pernah ragu untuk bertanya ini itu kepada siapapun yang ditemuinya, dan tidak ragu untuk melakukan kekerasan ketika tersudut.
Dill Harris adalah bocah jenius sahabat Jem dan Scout.
Arthur ‘Boo’ Radley adalah tetangga mereka yang keluar rumah dan jarang sekali terlihat bersosialisasi.

Ringkasan Novel

Novel ini mengisahkan kehidupan keluarga Atticus Finch, seorang pengacara lokal di Maycomb County. Duda ini memiliki putra-putri yang bernama Jem Finch (Jem) dan Jean Louise Finch (Scout). Mereka bertiga mempunyai pembantu, seorang Afro-Amerika bernama Calpurnia, dan tinggal di pemukiman tua di pinggiran Alabama, Amerika Serikat.

Kisah ini diawali dengan rasa penasaran Scout dan Jem pada tetanga mereka yang misterius. Seluruh anggota keluarga ini jarang keluar rumah kecuali kepala keluarga, Mr. Radley. Menurut desas desus, Boo Radley, anak laki-laki keluarga ini mengalami gangguan jiwa dan dilarang keluar dari rumah. Mereka menceritakan rasa penasaran itu kepada Dill, teman baru mereka yang berasal dari Mediteran dan berlibur musim panas ke Maycomb. Layaknya anak-anak yang selalu mengembangkan fantasi mereka, maka Boo Radley yang misterius itu mereka bayangkan sebagai sosok yang mengerikan. Namun demikian, bukannya takut, Scout, Jem, dan Dill malah semakin penasaran dengan Boo. Berbagai keusilan mereka lakukan untuk memancing Boo keluar dari rumah, tetapi segala keusilan mereka malah dibalas kebaikan Boo yang tak diduga-duga.

Pada awalnya kehidupan keluarga Atticus berjalan normal, hingga akhirnya Atticus memutuskan untuk menjadi pengacara bagi seorang kulit hitam dalam sebuah kasus. Kehidupan keluarga kecil ini pun kemudian berubah. Atticus ditunjuk oleh pengadilan untuk membela seorang Afro-Amerika, Tom Robinson, yang dituduh memperkosa seorang wanita kulit putih, Mayella Ewel, dan Atticus, yang kulit putih, menyetujui hal tersebut. Kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Atticus sudah berusaha keras, namun pengadilan yang bersistem juri itu memutuskan lain. Seperti sudah tradisi, tidak ada juri yang membela kulit hitam.

Kemudian tentang rencana pembunuhan Bob Ewell terhadap Jem di jalan. Jem terluka dan pingsan tetapi Ewell mati seketika saat penyerangan terjadi. Sherif Tate meyakinkan Atticus bahwa Ewell jatuh menimpa pisaunya sendiri, meski Atticus tak memercayai ini. Heck Tate menegaskan itulah kenyataannya.

Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, Scout belajar bahwa kehidupan tidaklah hitam putih melulu. Scout belajar banyak hal tentang kehidupan di luar dunianya. Pada akhirnya Scout menyadari bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Untuk kali pertamanya, Scout menyadari ternyata ada kenyataan lain yang bernama kompromi. Ada kenyataan lain yang berada di wilayah kelabu, grey area.

Komentar

Novel ini sebenarnya biasa karena tema yang diambil pun tidak jauh-jauh dari novel-novel yang pernah saya baca. Layaknya karya-karya sastra lainnya, novel ini merupakan representasi kehidupan. Nilai plus yang membuat novel ini patut diacungi jempol adalah pada penokohan dan narasinya. Melalui sudut pandang seorang gadis kecil, Scout, Harper Lee mampu menceritakan karakter masing-masing tokoh, meskipun tokoh dalam novel tersebut terbilang banyak. Karakter-karakter tersebut digambarkan sangat demikian nyata sesuai dengan gambaran kondisi Amerika pada waktu itu. Tahun 1930-an adalah masa di saat Amerika diselimuti racial segregation, rasisme kulit putih terhadap kulit hitam. Segala aspek kehidupan mulai dari pelayanan masyarakat hingga fasilitas angkutan umum, dibedakan peruntukkannya berdasar warna kulit, termasuk juga tentang masalah hukum. Pada masa itu, hukum yang paling pantas bagi orang kulit hitam adalah hukum gantung, meski tanpa peradilan. Ini salah satu masa tergelap sejarah Negeri Paman Sam. Klu Klux Klan, organisasi penyebar kebencian dan anti-kulit hitam, pada masa itu memiliki hampir 5 juta pengikut.

Sebelum lebih jauh, marilah kita kaji makna dari judul novel ini terlebih dahulu. “To Kill a Mockingbird: novel tentang kasih sayang dan prasangka”, begitulah yang tertulis di muka novel.

Mockingbird adalah sejenis burung murai yang tak pernah memakan biji-bijian. Tidak pernah mencuri dan mengganggu. Burung ini selalu bersiul dan menambah keindahan pagi. Bagi Nyonya Maudie, kata ‘mockingbird’ terkait suatu perilaku ‘dosa’. Katanya pada Scout,

“Kau boleh menembak burung bluejay sebanyak yang kau mau, tetapi ingat, membunuh mockingbird itu dosa.”

Dia memberikan alasan bahwa

“Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati. Hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita.”

Mockingbird melambangkan ke-innocence-an atau sesuatu yang tidak berdosa. Jika dikaitkan dengan novel ini, mungkin makna ‘mockingbird’ ini tertuju pada Boo Radley, Tom Robinson, dan Atticus. Boo Radley kerap menjadi bahan olokan anak-anak dan dijauhi di lingkungannya. Tom Robinson yang statusnya seorang kulit hitam selalu mendapatkan perilaku yang diskriminatif dari para kulit putih. Misalnya, Tom Robinson dituduh memperkosa Mayella Ewell, padahal pada kenyataannya Mayella lah yang merayu Tom untuk melakukan hubungan intim. Selaku orang negro, akhirnya ia tidak dapat melakukan apa-apa. Kemudian Atticus, yang membela Tom Robinson, mendapat cemoohan dan julukan sebagai pecinta nigger. Hal itu dilakukannya karena ia memegang prinsip “kesamaan hak untuk semua orang” termasuk untuk orang kulit hitam. Oleh karena itu, “Membunuh Mockingbird” itu sendiri mungkin mempunyai arti membunuh ke-innocence-an atau kebenaran, kebenaran yang tidak ditegakkan pada Tom Robinson dan Atticus. Kemudian juga prasangka-prasangka atas Boo Radley yang akhirnya membutakan manusia akan kebenaran.

Prasangka, menurut kamus pribadi saya, adalah cara kita memandang atau menilai orang lain sesuai cara pandang kita sendiri. Ada banyak prasangka yang terlukiskan dalam novel ini, diantaranya adalah prasangka anak-anak terhadap ayahnya, prasangka orang terhadap tetangga-tetangganya yang berkulit hitam, dan prasangka orang terhadap keluarga Radley. Padahal seperti kata Scout,

“Mereka tidak mau keluar rumah karena memang tidak ingin”.

Tidak salah memang memiliki prasangka, tetapi apabila sampai mengaburkan kebenaran, itulah yang salah. Prasangka membuat orang kehilangan kekritisannya, tidak mau mencari tahu, dan cenderung mempunyai hati yang tidak bersih. Prasangka orang terhadap Boo Radley mendorong Jem, Scout, dan Dill mengusilinya. Akhirnya, prasangka mereka malah dibalikkan dengan kebaikan Boo Radley. Pertama, hadiah-hadiah yang disiapkan di ceruk pohon bagi Jem dan Scout. Kedua, celana Jem yang sudah tergantung dan sudah terjahit dengan rapi di pagar rumah keluarga Radley. Kemudian yang ketiga, diselamatkannya Jem dan Scout ketika pulang dari pesta Halloween. Scout pun akhirnya memahami apa yang ayahnya pernah katakan,

“Atticus benar. Dia pernah berkata, kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya.”

Atticus juga menggambarkan prasangka orang kulit putih terhadap orang negro, saat keputusan juri tidak berpihak pada Tom Robinson yang dituduh memperkosa orang kulit putih.

“Tak ada orang di ruang pengadilan ini yang belum pernah berbohong, yang belum pernah berbuat amoral, dan tak ada lelaki hidup yang tak pernah memandang seorang perempuan dengan hasrat.”

Menurutnya, ada prasangka yang tertanam di orang kulit putih bahwa orang kulit hitam adalah makhluk yang tidak bermoral. Padahal ketidakmoralan tersebut adalah milik seluruh manusia, tidak terikat pada satu ras saja.

Salah satu kunci untuk meluluhkan kebodohan (dalam hal ini adalah prasangka) adalah dengan pendidikan. Seusai bekerja sebagai pengacara, Atticus bersama dengan Scout akan membaca artikel koran. Kemudian untuk Jem, ia membelikan majalah Football kesukaannya. Scout dan Jem akhirnya terbiasa dengan diskusi dan sebagai tempat bertanya terakhir mereka adalah ayahnya, sebagaimana kata Scout,

“Aku dan Jem sudah terbiasa dengan diksi ayah kami yang lebih cocok diterapkan pada surat wasiat, dan kami bebas menyela Attiicus kapanpun untuk memintanya menjelaskan kata-kata itu kalau ucapannya tak kami mengerti.”

Scout juga mendapatkan pendidikan dari pembantunya, yang notabene adalah orang Negro. Saat Scout berkomentar karena cara makan Walter tidak berkenan, Calipurnia menegurnya,

“Kalian mungkin memang lebih baik dari keluarga Cunningham, tapi kau tak ada artinya kalau mempermalukan mereka seperti itu.”

Scout belajar menghormati orang lain dari pembantunya tersebut.

Di samping hal-hal tersebut di atas, novel ini juga sarat dengan kasih sayang, ditunjukkan oleh Atticus Finch pada anak-anaknya (Scout dan Jem) dan Scout dan Jem pada sahabat mereka, si anak terlantar Dill. Kemudian kasih sayang keluarga Finch pada Calpuria, pembantu mereka yang berkulit hitam. Bahkan, seluruh kota yang kadang saling bertentangan tetapi sekaligus saling menyayangi.

Sekilas melihat biografi penulis, Harper Lee, bisa jadi novel ini adalah kisah nyata hidupnya. Di luar itu, novel ini merupakan potret kehidupan waktu itu, adanya rasisme disana, atau bahkan mungkin kritik sosial atas rasisme tersebut.

Mendapatkan Penghargaan Pulitzer

Penghargaan Pulitzer awalnya diprakarasai oleh Joseph Pulitzer, seorang jurnalis dan penerbit surat kabar warga AS yang lahir di Hungaria, pada tahun 1917. Jika dalam dunia perfilman dan musik di Amerika Serikat ada penghargaan piala Oscar dan Grammy yang dianugerahkan kepada insan-insan berprestasi dalam bidang tersebut, maka dalam dunia jurnalistik (terutama jurnalistik cetak) ada satu penghargaan yang dianggap sangat prestisius dan sering menjadi incaran serius para jurnalis negara adikuasa tersebut. Penghargaan ini diberikan kepada karya-karya luar biasa yang mencakup beberapa kategori (ada 21 kategori) yang secara garis besar dikategorikan sebagai berikut: jurnalisme, seni, sastra, dan fiksi di Amerika. Untuk karya fiksi haruslah penulis Amerika dan karya fiksinya bercerita tentang kehidupan di Amerika. Oleh karena itu, pantaslah novel “To Kill a Mockingbird” mendapatkan penghargaan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s