Menjadi Kaya dengan Menulis

Ikatlah ilmu dengan tulisan, begitulah ungkapan yang sering kita dengar. Dengan menulis, ilmu dan ide kita diabadikan sehingga bisa ditransfer dari generasi ke generasi dan tersebar luas. Hampir setiap orang bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa menjadi penulis. Padahal menjadi seorang penulis merupakan profesi yang menjanjikan.
Dalam seminar nasional “Writerpreneurship: Menjadi Penulis Best Seller” yang digelar oleh Sekolah Penulis Yogya (SPY) di Gedung Tiga Serangkai, Condong Catur Yogyakarta, pada tanggal 24 Oktober 2008, Fauzil Adhim memaparkan bahwa menulis dapat menjadi profesi yang memberikan standar kesejahteraan lebih dengan syarat harus total dan profesional. Jika seseorang bisa menulis sesuatu yang penting dan bermanfaat serta dikemas dengan bahasa cair, renyah, mudah diterima masyarakat luas maka peluang untuk mendapatkan royalti besar bukanlah hal yang tak mungkin. Lebih lanjut, Fauzil Adhim memberikan contoh beberapa penulis yang kaya dan sejahtera karena tulisannya. Sebagai contoh adalah Habiburrahman Elshirazy yang mendapatkan royalti lebih dari Rp 1,2 miliar dari novel Ayat-Ayat Cinta. Demikian juga Emha Ainun Nadjib, Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, dan Joni Ariadinata (http://arda-mediapenulis.blogspot.com/2008/04/writerpreneurship-menjadi-kaya-dari.html).

Masih di negeri sendiri, Hilman misalnya, novel remajanya yang berjudul Lupus sangat laris, bahkan sampai difilmkan. Lalu Ary Ginanjar dengan buku ESQ dan pelatihannya. Bayangkan, berapa banyak penghasilan mereka dari tulisannya? Minimal cukup untuk mencukupi kehidupan mereka dan menabung.

Kemudian Joane Kethleen Rowling atau biasa dikenal dengan J.K.Rowling yang kekayaannya melebihi Ratu Elizabeth Inggris karena novel Harry Potternya laris manis bak kacang goreng sehingga royaltinya pun cukup lumayan. Novel ini diterjemahkan di 200 negara dan diterjemahkan dalam 61 bahasa. Selain terjual lebih dari 250 eksemplar, novel ini juga difilmkan dan digemari oleh masyarakat dunia.

Dari beberapa fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa seorang penulis bisa hidup dan menjadi kaya dengan tulisannya. Apakah ini artinya setiap penulis selalu meniatkan aktivitas menulisnya agar menjadi kaya? Dan apakah ‘kaya’ selalu diidentikkan dengan tingginya penghasilan dan popularitas?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah kita menilik kembali apa sebenarnya konsep dari menulis itu sendiri. Sama halnya dengan berbicara, menulis merupakan sarana untuk mengkomunikasikan ide dan pengalaman kita kepada orang lain. Bahkan terkadang kita sekaligus dapat menumpahkan segala uneg-uneg, baik rasa senang ataupun sedih kita, sehingga terkurangilah tingkat stress dan ketegangan kita. Menurut Bobbi DePorter (2003), menulis adalah aktivitas yang menggunakan belahan otak kanan (emosional) dan otak kiri (logika). Dengan memanfaatkan otak kanan dan kiri secara seimbang, kita bisa menulis dengan baik.

Lalu, bagaimana esensi menulis dikaitkan dengan ‘kaya’ tadi? Tidak dapat dipungkiri, terkadang menulis diniatkan untuk mencari popularitas maupun uang. Namun demikian, tidak sedikit pula penulis yang meniatkan aktivitas menulisnya untuk ibadah dan dakwah. Atau bahkan hanya untuk belajar dan menguji kemampuan menulisnya dan karena panggilan hidup sebagai penulis. Cak Nun (panggilan Emha Ainun Najib) misalnya, ia pernah mengatakan, bahwa ia akan terus menulis baik dalam keadaan kaya atau miskin karena menulis telah menjadi bagian dari dirinya. Jadi, setiap orang mempunyai motivasi dan tujuan menulis masing-masing. Terkait dengan ‘kaya’ tersebut, seorang penulis tidak hanya bisa menjadi ‘kaya’ dalam artian popularitas dan uang semata. Akan tetapi, dengan menulis seseorang bisa menjadi kaya dalam artian menjadi kaya ilmu dan pengetahuan, kaya pengalaman, dan mendapatkan kekayaan hati.

Pertama, kita menjadi kaya ilmu dan pengetahuan dengan menulis. Ilmu dan pengetahuan merupakan modal yang sangat penting dalam menopang dunia kepenulisan. Tanpa ilmu dan pengetahuan yang mumpuni, kita akan menulis dengan dangkal. Itulah mengapa membaca menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas menulis. Menulis mendorong kita untuk senantiasa mencari referensi dan membaca seperti buku, koran, majalah, jurnal, dan sebagainya. Hal ini akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang apa yang akan kita tulis sehingga kita tidak akan menulis dengan ngawur. Selain itu, tulisan kita akan selalu aktual dan menarik bagi pembaca karena informasi yang disajikan tidak basi/ ketinggalan jaman.

Kedua, dengan menulis kita akan menjadi kaya pengalaman. Walau pengalaman merupakan peristiwa masa lalu yang telah terjadi, namun sangat berarti. Mulai dari pengalaman menulis kita sendiri maupun pengalaman orang lain. Membaca tidaklah melulu berhubungan dengan buku, jurnal, dan sejenisnya. Seorang penulis yang baik selalu membaca pengalaman dari orang lain agar mendapat motivasi dan inspirasi. Pengalaman penulis profesional, redaktur, atau guru misalnya, akan membantu menuangkan gagasan kita dalam tulisan. Hal ini bisa didapatkan dengan bergaul secara personal dengan penulis maupun dengan berpartisipasi aktif dalam suatu komunitas menulis. Ibarat berdekatan dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut menjadi lain. Berbeda ketika kita berdekatan dengan tukang pandai besi, bisa-bisa kita terkena panasnya.

Bisa juga dengan membaca bukunya atau mendengar CD/ VCD para penulis sukses. Dengan belajar dari pengalaman itulah, kita akan mendapatkan informasi baru. Kita pun akhirnya terlatih untuk mengingat atau malah mengabadikan informasi tersebut. Dengan demikian, kita akan terus belajar dan berionovasi agar karya kita menarik dan diminati pembaca.
Terakhir, menulis mendorong kita mendapatkan kekayaan hati. Seperti kata Yusuf Maulana, “Keberhasilan menulis pada akhirnya ditentukan oleh kesungguhan untuk berani memulai”. Keberanian inilah yang menunjukkan kekayaan hati kita, ketika kita harus qanaah—menerima apa adanya dan terus berkarya lebih baik walau tulisan kita ditolak. Kita pun akhirnya menjadi tidak pantang menyerah, terus istiqomah (tekun dan rajin), dan positive thinking. Apalagi ketika tulisan kita dianggap bermanfaat bagi orang lain dengan dimuat oleh media atau diterbitkan oleh penerbit, kita akan mendapatkan kepuasan batin tersendiri.

Dengan demikian, menulis memang dapat membuat kita menjadi kaya, tetapi bukan berarti kaya secara materiil. Hal yang terpenting adalah memupuk kekayaan diri kita dengan senantiasa terus belajar dan berkarya. Untuk berkarya, kita membutuhkan ilmu. Dan apalah arti ilmu tanpa amal? Ibarat pohon yang tak berbuah, bisa-bisa ilmu tersebut akhirnya hilang dengan sendirinya karena belum sempat diwariskan. Coba bayangkan ketika niat kita hanya sekedar berbagi ilmu, namun pada akhirnya digunakan untuk menolong dan bermanfaat bagi orang lain. Bukankah buah dari ilmu tersebut akan terasa lezat? Kalaupun akhirnya kita menjadi kaya uang atau popularitas, anggap saja itu sebagai reward atas kerja keras kita selama ini. Karena pada akhirnya, Allah pun tidak hanya melihat hasil kita, melainkan proses kita dalam melakukan perubahan—doing better and being better.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s