Manisnya Buah Merangkai Kata

Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Syauqi tersentak, terbangun. Seketika HPnya pun berbunyi, dari nomor yang tak dikenal berkode Yogyakarta. Syauqi menjawabnya, mengucap pelan.
“Wa’alaikumussalam..,” suaranya berat, belum genap nyawanya. “Le, ini Bapak. Mbok pulang tho le, walaupun kamu dah bisa nyari uang sendiri, tapi Bapak masih pengen nyangoni kamu.”
Syauqi terdiam. Sebenarnya ada getir rindu yang membuatnya ingin pulang. Rindu untuk kembali ke pangkuan keluarga. Menghirup udara yang pertama kali dia hirup, menginjak tanah yang pertama kali dia injak. Bukan tidak mengerti kerinduan Bapaknya, tapi untuk pulang kampung…enggan rasanya. ”Ehm..nggih, insya Allah..,” jawabnya kemudian.
***
Brrr…..Syauqi menggigil ketika wudlu. Benar seperti dugaannya. Airnya duingiiin…sekali. Serasa wudlu dengan air es. Bergegas dia menyelesaikan acara wudlu kemudian, menuju mushola. Salah satu anak mengumandangkan iqomah dan kami pun segera sholat subuh. Syauqi berdoa, “Ya Rabb..padaMu aku serahkan hidupku. Engkau akan memilihkan yang terbaik menurutMu untukku, di tempat dan waktu yang terbaik…yang akan membawa berkah. Semoga ini bukan Subuh terakhirku…”
Syauqi termangu, entah dimana, menatap langit tak berbintang, sambil bergumam, “Aku capek, aku lelah.” Ditengah perjalanan pulangnya, didapati raut wajah itu. Rambut acak-acakan, wajah sayu seolah terlihat lelah sekali, tubuhnya terbalut jaket kulit, dan celana panjang. Itulah Imam.
Laki-laki yang berprofesi sebagai operator warnet sekaligius penulis itu pun dengan sedikit senyumnya menyapa, “Pagi ki..habis dari mushola ya?”
“Iya, habis subuhan. Baru pulang dari kerja ya?” jawabnya.
“Yupz, biasa, jatah jaga malam. Koq kusut banget?” tanyanya kemudian.
“Benang kalee kusut. Ndak koq, cuma lagi mikir aja. Tapi bukan hal yang penting koq.”
Imam pun tiba-tiba tenggelam dalam lirik tembang Kepompong-nya Sindentosca.
Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong, maklumi teman hadapi perbedaan..
“Ayolah, katanya kita sahabatan, kulihat mendung menggelayuti mu,” paksa Imam membuyarkan lamunannya. Sungguh mati aku penasaran…Imam pun kemudian melantunkan lagu kesayanggannya, lagu dari Roma Irama.
“Yaa…baiklah. Kamu emang paling bisa bikin aku ketawa lagi. Sebenenarnya aku malas menceritakan ini ke kamu, karena kamu seorang penulis. Kamu tahu kan Bapakku seorang penulis?”
“Iya, aku tahu. Memang kenapa? Ndak ada yang salah dengan menjadi seorang penulis,” selidik Imam.
“Aku tak pernah mengerti kenapa beliau masih bertahan sebagai seorang penulis, pekerjaan yang tidak menjanjikan kekayaan. Kamu juga, aneh..” wajah Syauqi berubah masam. Ia pandangi Imam dalam-dalam.
“Ki, untukku tulisan adalah senjataku. Aku meyakini tulisanku sebagai sebutir biji atau spora lumut yang paling bandel yang akan tinggal di pikiran siapapun yang membacanya. Dengan paduan keadaan dan suatu kesempatan yang tepat, aku yakin bahwa suatu hari spora lumutku akan tumbuh di suatu tempat, menjadi perintis sebuah taman baru yang berbuah banyak,” jawab Imam dengan bangganya.
“Ooo”, ucap Syauqi dingin.
“Hal yang paling menyenangkan ketika menulis adalah ketika aku bisa bebas bersuara, tanpa perlu menampakkan wajahku. Kamu pernah merasa lemah kan…dan tak berdaya? Di padang kegelisahanku itulah aku menulis sisa-sisa harapanku,” kata Imam membela diri.
“Ya, ya, ya,..cukup! Ok, daripada aku ndengerin ceramah dunia menulismu, mending aku cerita.” Setelah menghela nafas beberapa saat, dia pun menambahkan, “Bapakku pengen aku pulang. Bukannya aku ndak mengerti kerinduan keluargaku, tapi pulang adalah hal yang paling enggan aku lakukan. Disana paling aku cuma ngobrol, nonton tivi, makan, dan tidur. Tidak ada hal yang bermakna.”
“Tapi menurutku, ndak ada salahnya kamu refresing sekali-kali, melepaskan kepenatan di tengah hangatnya keluarga,” ujar Imam.
“Kamu tahu kan, dokter memvonisku sakit Glaukoma, pencuri penglihatan kedua setelah Katarak. Ntah sampai kapan aku bisa menikmati kebesaranNya.”
“Iya, so what?” Imam tak tahu harus berbicara apa.
“Yaa..yang kuingini sekarang ya hanya berbuat yang terbaik. Aku pengen mandiri, ndak ngerpoti orang tua lagi, makanya aku malas pulang. Gaji guru Bapak ndak seberapa, belum lagi royaltinya sebagai penulis. Kalau aku pulang, pasti aku hanya akan mengurangi uang jatah hidup keluargaku.”
“Ki, tiap orang pasti punya fase sulit dalam hidup. Masalah dalam hidup pasti akan selalu ada. Makin tua harusnya makin bijaksana dalam memandang hidup. Justru kamu harusnya malah bersyukur, orang tuamu masih lengkap dan merindukanmu, ndak kayak aku,” Imam menarik nafas dengan keras, membuat Syauqi merasa bersalah.
Syauqi pun terdiam, tak menoleh dari memandangi langit yang memerah.
“Kamu tahu, kalau pun Allah mencabut penglihatanmu, artinya Dia pengen menjaga matamu dari hal-hal yang tidak seharusnya kamu pandang Roda pasti berputar, ndak perlu diratapi. Ujian dari Allah itu tarbiyah. Toh yang namanya rezeki pun juga sudah diaturNya. Tak perlu risaukan biaya pengobatanmu yang membengkak, asalkan kita menyempurnakan ikhtiar, doa, dan tawakal; insya Allah akan datang pertolonganNya,” sambung Imam lagi.
Subhanallah, sesejuk embun di pagi hari, menemani langkah yang Syauqi ayun pelan menuju pondokannya. Tak terasa jalanan yang tadinya sepi mulai ramai, lampu pun sudah dimatikan, tanda hiruk pikuk dunia telah dimulai. Syauqi pun memutuskan untuk pulang seketika itu juga.
***
Sementara di sebuah gerbong yang melaju cepat ke arah Yogyakarta, seorang laki-laki paruh baya duduk di bangku kereta, seperti menatap Syauqi. Dia seolah mengenal lelaki paruh baya itu, tapi siapa? Kereta terus melaju, makin lama makin cepat. Dia menatap kembali wajah. Belum sampai dia menemukan jawabannya, tiba-tiba laki-laki itu mendekatinya.
“Kamu putranya Pak Sidiq tho?” dengan suara khasnya, memecah ingatan Syauqi.
“Ooo Pak Imron, iya, saya putranya pak Sidiq. Dari mana, Pak? Koq sendirian?” tanyanya dengan ramah.
“Habis dari njengukin cucu, kangen,” sambil tersenyum. “Katanya Bapakmu mau ngulon ya?” tanyanya.
“Ngulon? Ke Jogja?”
“Yaa..kemana lagi. Naik haji. Salut aku..”
Syauqi mematung. Merasa bersalah. Merasa sudah lama tidak pulang, sibuk dengan dunianya. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabar keluarganya pun tidak sempat.
“Masak sih, Pak? Uang dari mana? Rumah kami aja segitu sederhananya. Mbiayain sekolah adik-adik aja masih harus kerja keras. Gaji guru kan ndak seberapa. Belum lagi Bapak hanya nyambi sebagai seorang penulis, pakerjaan yang menghasilkan uang yang terlalu sedikit.” Syauqi masih belum percaya sepenuhnya.
“Yaa..justru gara-gara dia nyambi itu. Dia digratisi haji gara-gara memenangkan lomba menulis yang diadakan Bupati Gunungkidul.”
Subhanallah…terlintas dalam angan Syauqi bagaimana Bapaknya mengeja Islam, yang ingin terus belajar dan mengajarkannya. Terlintas dalam bayangnya bagaimana Bapaknya begitu cinta dengan masjid di depan tempat tinggalnya, menyapu dan mengadzaninya setiap hari. Terngiang dalam ingatannya bagaimana Bapaknya terus merangkai kata dengan penanya. Bapaknya tidak peduli berapa rupiah yang didapatkannya dalam satu hari. Bapaknya begitu mengenal Allah, hari-harinya penuh keyakinan, bukan materi yang dikejarnya, akan tetapi bersabar akan janjiNya.
Syauqi bersyukur sekaligus menyesal, karena dia bukan orang pertama yang tahu berita menggembirakan tersebut, ketika Bapaknya diberi kesempatan untuk memenuhi panggilanNya. Ternyata benar..barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya. Kita mohon kekuatan dan Allah beri kita kesulitan-kesulitan untuk buat kita tegar. Kita mohon kebijakan dan Allah beri kita persoalan hidup untuk diselesaikan agar menjadi bijaksana. Itulah diantara cara Allah membimbing kita. Kadang Allah tidak memberikan yang kita minta, tapi Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Kadang kita tidak mengerti, bahkan tidak menerima rencana Allah yang pasti indah…
Terima kasih, Allah…

(Cerpen ini ditulis pada tahun 2008 saat mengikuti Sekolah Menulis yang diadakan oleh Humanika FIB UGM, alhamdulillah menjadi peringkat kedua versi fiksi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s