Guru ku Sayang, Guru ku Malang

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku…
Sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdiaanmu…

Engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa…

Beberapa baris dari hymne Guru tersebut menggambarkan betapa mulianya peran seorang guru—pahlawan tanpa tanda jasa. Guru disini bukanlah sekedar profesi yang menjalankan fungsinya di sebuah institusi pendidikan, melainkan guru merupakan sosok penting yang telah ikut mencerdasakan kehidupan bangsa. Melalui guru kita belajar berbagai macam hal yang harapannya memberikan perubahan yang positif sehingga pada akhirnya kita mendapatkan ketrampilan, kecakapan, dan pengetahuan baru. Guru telah mengajari kita memanusiakan manusia dan mengajarkan bagaimana menjadi manusia seutuhnya dengan memanfaatkan akal yang telah Dia karuniakan kepada kita.

Menurut Mortimer J.Adler, mengajar adalah membimbing. ‘Membimbing’ dalam hal ini berbeda dengan petani yang membimbing alam. Seorang guru membimbing pikiran, dengan menularkan ilmunya dan berdialog, sebagaimana fungsi utama dari pendidikan. Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur, dan terencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan.

Menjadi guru tidaklah mudah, mereka harus menyiapkan silabus rencana pembelajaran, menyiapkan materi, mengevaluasi, menghidupkan suasana dengan menciptakan dialog, dan sebagainya. Belum lagi dengan kurikulum yang sering berubah, mengharuskan guru untuk senantiasa terus belajar. Akan tetapi, sepertinya profesi guru dianggap ‘murahan’ oleh beberapa kalangan. Padahal jika kita mau mencermati, sudah berapa politikus yang terlahir dari guru? Sudah berapa akuntan yang terlahir dari guru? Dan begitu pula dengan profesi-profesi lain.

Alangkah sangat menyedihkan ketika mendengarkan cerita dari seorang guru di Gunungkidul yang gajinya hanya cukup untuk mengganti uang bensinnya. Ditambah lagi dengan cerita dari seorang sahabat yang menjadi guru di daerah Prambanan. Dia hanya dibayar 150 ribu rupiah setelah mengajar 22 jam, padahal masih kos pula. Seolah tidak ada penghargaan untuk mereka sebagai pendidik yang telah membagikan ilmu mereka. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi di Jepang ketika bom meledak di Hiroshima Nagasaki, hal yang pertama kali ditanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup.

Namun demikian, guru-guru tersebut tidak serta merta kapok menjalani profesi mereka karena mereka merasakan manfaat yang sangat positif setelah menyebarkan ilmu mereka—hal yang lebih besar dan diluar dugaan mereka. Dengan mengajar, kemampuan keilmuan mereka semakin bertambah. Seorang guru dituntut untuk belajar terus menerus dan mengasah kompetensi, agar mampu mengajarkan sesuatu dengan baik di depan kelas, dan tidak menyesatkan dengan ilmu yang salah.

Lihatlah semangatnya dalam menjalani hidup
Lihatlah ia dalam bersosial dan tak pernah tanggung saat menolong tubuh lain
Ia selalu berusaha mengisi hari dengan senyuman
Ia berusaha kaya namun tetap sederhana
Ia selalu berusaha mandiri namun tetap berbagi

Guru memang profesi yang dianggap kecil dan tak menjanjikan bergelimangnya harta, akan tetapi banyak hal besar yang bisa dicapai dari profesi kecil tersebut. Oleh karena itu, pantaslah jika profesi guru dianggap sebagai profesi yang mulia.

2 thoughts on “Guru ku Sayang, Guru ku Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s