atas nama cinta

Ummi,
Kau ajari aku melangkah
setapak demi setapak
walau kau tahu..
kelak ku ‘kan menjauh dan sibuk dengan hiruk pikuk dunia
Kau ajari aku bicara
sepatah demi sepatah
walau kau tahu..
kelak ku ‘kan pandai berdalih dan mendebat ingin mu

Ummi,
Masih terngiang di telingaku
tutur bahasamu
nan sesejuk embun di pagi hari
Masih terbayang di mataku
pesona tingkah lakumu
nan seindah bunga setaman
Masih terpatri dalam ingatanku
ketegaranmu dalam mengarungi bahtera kehidupan
nan sekokoh karang di lautan

Ummi,
Kala tetes tangis membasahi pipi ini
bersua menguak iba
kau tumbuhkan bulu-bulu kedamaian di jiwa ini
Kala lidahku berbuih
merajuk, merayu, menghiba ini itu
kau tak tega tuk layukan daun-daun impian itu
Kala dingin menusuk raga
merasuk ke setiap ion-ion atom jiwaku
kau dekap aku erat dengan hangatnya cintamu

Ummi,
Ketika ku diantara deburan ombak kebimbangan dan kegelisahan
kau dampingi aku atas keyakinan langkah ini
dalam pengembaraan mencari kebenaran
Ketika ku dirundung kesedihan yang mendalam dan perihnya luka
kau jahit kembali lubang-lubang luka ini
mengobati sayap patahku dan menerbangkan sayap sedihku dengan tawamu
Ketika ku tak sanggup menghadapi gelombang ketakutan dan pahitnya kenyataan
kau bantu aku bangun kembali puing-puing semangatku
‘tuk menapaki segala takdir-Nya

Ummi,
Terkadang ku terlupa menjadikanmu terminal
hanya sebagai tempat mampir
kala resah itu hilang, ku segera menghilang jua
Terkadang ku terlupa menjadikanmu hotel
tempat persinggahan sementara
kala sedih itu pergi, ku segera pergi jua
Terkadang ku terlupa menjadikanmu bank
tempat menyimpan dan mengambil uang
kala segala inginku kau penuhi, ku segera terlena dan terbang layaknya burung

Ummi,
Walau ku pinjam cahya mentari
yang sinari alam ini
tak kan sanggup gantikan hangatnya cintamu
Walau ku pinjam desiran angin
yang mengeringkan dedaunan basah
tak kan sanggup gantikan kelembutan kasihmu
Walau ku pinjam air hujan
yang basahi setiap sisi bumi
tak kan sanggup gantikan keikhlasan hatimu

Ummi,
Seperlima abad sudah ku merenda jaring-jaring kehidupan
namun apa yang kupersembahkan untukmu
barulah se-kuku hitam
Tak sepadan dengan luka mengangamu akibat terantuk tajamnya kerikil kehidupan
tak sepadan dengan keringat yang membanjiri setiap pori tubuhmu
tak sepadan dengan kecantikanmu yang berganti dengan keriput wajahmu
Bersama hembusan angin
yang goyangkan rumput-rumput ilalang
atas nama cinta, kutitipkan doa :
Rabb..
ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa abi ummi hamba
sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil
Rabb..
izinkanlah hamba bersama abi ummi hamba
di jannah Mu kelak
Amiiin

Teruntuk semua “ummi” ….
Moga belum terlambat tuk ucapkan
-SELAMAT HARI IBU-
Moga Alloh memberikan balasan yang terbaik
Dan mengumpulkan kita dengan orang-orang shaleh di akhirat kelak
Allohuma amiin..

(Memory: Puisi ini ditulis saat Mother’s Day diadakan KMIB FIB UGM tahun 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s