“merenung seperti gunung, bergerak bagai ombak”

Mengutip puisi sang begawan alm WS Rendra, “merenung seperti gunung, bergerak bagai ombak”..dan mencoba menafsirkannya..

Merenung seperti gunung

Sebagai manusia selayaknya bisa belajar dari gunung. Tetap kokoh seperti gunung, saat kita sedang merenung. Tetap besar seperti gunung, tidak memperlihatkan kerapuhan saat sedang merenung, memperlihatkan kesedihan, atau semacamnya. Gunung berapi memang terlihat diam tetapi sesungguhnya di dalam gunung berapi itu ada aktivitas pergolakan panas yang luar biasa, yang bisa meledak atau meletus saat puncaknya tiba, dan saat letusan terjadi bisa menggemparkan alam sekitarnya. Sama halnya seperti kita, saat kita diam atau merenung hendaklah untuk tetap berpikir dalam otak kita, berpikir saat perenungan berakhir supaya kita bisa bangkit dan menggemparkan dunia, seperti halnya berpikir untuk mengeluarkan ide atau gagasan.

Bergerak bagai ombak

Setelah perenungan berakhir tentunya kita harus menjalani komitmen dari hasil perenungan itu. Kita harus bergerak seperti ombak di lautan, ombak di lautan yang tidak akan berhenti sebelum mencapai bibir pantai. Begitu juga dengan kita, ketika menjalani sesuatu harus terus dijalani sampai tujuan atau cita-cita tersebut terwujud, tidak berhenti di tengah jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s